Kokurikuler dan Literasi dalam Harmoni Pentas Seni Sekolah

"Setiap anak adalah cahaya, dan pentas adalah wadah untuk merubah cahaya menjadi pelangi; yang dibanggakan, dihargai, dan diapresiasi."

Sukodono, 18 Desember 2025, Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam pelajaran intrakurikuler, namun masih berkaitan langsung dengan materi pembelajaran di kelas dan bertujuan untuk memperdalam, memperkaya, serta menguatkan kompetensi peserta didik.

Sd Negeri Suruh pada akhir semester kembali melaksanakan kegiatan pentas seni/gelar karya yang di beri judul "Gebyar Literasi dan Kokulikuler".
Ibu Atik Purwati S.Pd Sd memaparkan bahwa "kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran akhir siswa setelah melalui rangkaian proses belajar selama satu semester. Melalui kegiatan pentas seni dan gelar karya ini, siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, serta menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna, menyenangkan, dan mampu memotivasi siswa untuk terus berkarya."

Pada kegiatan ini, setiap kelas diwajibkan menampilkan satu bentuk kreasi sebagai hasil dari proses pembelajaran yang telah dilalui selama satu semester. Berbagai penampilan ditampilkan oleh siswa, mulai dari tarian tradisional, pembacaan puisi, hingga pertunjukan sederhana yang mencerminkan kemampuan literasi dan kreativitas anak. Melalui penampilan tersebut, siswa belajar mengekspresikan ide, melatih keberanian tampil di depan umum, serta menumbuhkan rasa percaya diri.

Selain itu, kegiatan ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya, khususnya melalui pengenalan kembali permainan tradisional. Siswa diajak untuk memainkan dan menampilkan berbagai permainan tradisional yang mulai jarang dijumpai, sebagai upaya menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak dini. Dengan demikian, kegiatan pentas seni dan gelar karya ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang bermakna dan berkarakter

Siswa kelas 1 membaca puisi
Siswa kelas 2 menyanyi lagu tentang ibu

Membaca puisi menjadi salah satu kegiatan literasi yang melatih siswa untuk mengekspresikan perasaan dan gagasan melalui rangkaian kata yang penuh penghayatan. Hal tersebut tampak dalam penampilan Ananda Tsabit, yang dengan suara lembut dan ekspresi tulus berhasil menyampaikan pesan tersirat tentang sosok “Ibu”. Setiap bait puisi dibacakan dengan penghayatan yang mendalam, menghadirkan suasana haru dan ketenangan, hingga tanpa disadari mampu menyentuh hati para pendengar dan membuat air mata jatuh dengan sendirinya.

Suasana penuh emosi tersebut kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Ibu” secara bersama-sama. Lirik lagu “Kaulah ibuku, cinta kasihku, terima kasihku takkan pernah terhenti” menggema dengan penuh makna, menambah kekhidmatan acara dan semakin menguatkan rasa cinta serta penghargaan kepada sosok ibu. Momen ini menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam rangkaian kegiatan, karena tidak hanya menampilkan kreativitas siswa, tetapi juga menanamkan nilai kasih sayang, rasa syukur, dan penghormatan kepada orang tua.

Ada yang berbeda dan menarik dalam gelaran pentas kokurikuler dan literasi di SD Negeri Suruh kali ini. Di tengah gempuran tren media sosial yang kian masif, sekolah ini berhasil menyulap fenomena digital menjadi media pembelajaran yang edukatif melalui kegiatan Podcast Literasi.

Topik yang diangkat pun sangat menyentuh hati, yakni "Matahari Kecil: Peran Tak Tergantikan Ibu terhadap Masa Depan Anak". Podcast ini menjadi istimewa karena siswa kelas VI-B berhasil mengundang narasumber dari pihak eksternal untuk berbagi sudut pandang dan pengalaman nyata.

Kegiatan tersebut diawali dengan drama rumah tangga yang dibalut dengan komedi ringan sehingga mampu mencairkan suasana dan menarik perhatian para siswa sejak awal. Alur cerita yang sederhana namun sarat makna disajikan secara jenaka, membuat pesan yang ingin disampaikan mudah dipahami tanpa terkesan menggurui. Gelak tawa yang tercipta tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi jembatan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan, seperti pentingnya komunikasi dalam keluarga, saling menghargai, serta menumbuhkan rasa empati dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak mau kalah dengan kelas VI-B, Ibu Irma Eka Wahyuni, S.Pd selaku wali kelas VI-A menampilkan sebuah pertunjukan yang spektakuler, yakni drama kolosal Malin Kundang.

gambaran malin bertemu ibunya
gambaran malin kundang dikutuk menjadi batu

Beliau menuturkan bahwa "drama kolosal Malin Kundang yang ditampilkan bukan hanya sekadar sebuah pertunjukan seni, melainkan cerminan kehidupan nyata yang sarat dengan pesan moral. Kisah ini mengajarkan pentingnya sikap hormat dan berbakti kepada orang tua, terutama kepada seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat, dan mencurahkan kasih sayang tanpa batas kepada anaknya."
Melalui alur cerita yang kuat dan penghayatan para pemeran, penonton diajak untuk merenungkan dampak dari sikap durhaka serta menyadari bahwa restu dan doa orang tua, khususnya ibu, memiliki peran besar dalam perjalanan hidup seseorang. Drama ini diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, berakhlak mulia, dan selalu menghargai jasa orang tua.

Di sisi lain, kegiatan ini juga diisi dengan aksi sosial yang inisiasi oleh siswa-siswi kelas IV di bawah asuhan Bapak Agung Cahyo Nugroho, S.Pd. Kegiatan tersebut berupa bakti sosial yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepedulian, empati, dan semangat berbagi sejak dini kepada sesama. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk memahami pentingnya saling membantu dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, ditampilkan pula kegiatan pelatihan pengoperasionalan Smart TV sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi digital di sekolah. Pelatihan ini menjadi wujud nyata perhatian dan dukungan Bapak Presiden Prabowo terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran yang inovatif dan interaktif.

Keistimewaan pada penampilan ini terletak pada kolaborasinya dengan tarian tradisional Sluku-Sluku Bathok. Kolaborasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena mampu memadukan unsur teknologi modern dengan kekayaan budaya lokal. Kegiatan ini melibatkan kerja sama yang apik antara siswa kelas IV dan kelas III.

Pada penampilannya, siswa kelas IV memperagakan penggunaan smart board dalam kegiatan pembelajaran dengan mengangkat tema permainan tradisional Sluku-Sluku Bathok. Materi yang ditampilkan melalui media digital tersebut kemudian langsung dieksekusi oleh siswa-siswi kelas III di bawah asuhan Ibu Khoiriyah, S.Pd melalui penampilan tarian dan permainan tradisional secara langsung. Menurut beliau, "kolaborasi ini merupakan bentuk pembelajaran yang keren dan bermakna, karena mampu mengintegrasikan teknologi pendidikan dengan pelestarian budaya tradisional, sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup, kontekstual, dan menyenangkan bagi siswa."

Sosialisasi penggunaan SmartBoard
Penggunaan smartboard pada materi Sluku-Sluku bathok
Permainan tradisional Sluku-Sluku bathok
Permainan tradisional Sluku-Sluku Bathok

Pada kegiatan ini juga ditampilkan penampilan menyanyi bersama dari siswa-siswi kelas VI-B di bawah asuhan Ibu Trindy Pauziyah, S.Pd. Penampilan tersebut berlangsung dengan penuh penghayatan dan kebersamaan, menciptakan suasana yang hangat dan harmonis. Melalui kegiatan menyanyi bersama, siswa tidak hanya menyalurkan bakat dan minat di bidang seni musik, tetapi juga belajar tentang kekompakan, kepercayaan diri, serta kerja sama antaranggota kelompok. Penampilan ini menjadi salah satu momen yang mempererat kebersamaan seluruh warga sekolah sekaligus menambah semarak rangkaian kegiatan yang diselenggarakan.

Setelah menyaksikan berbagai penampilan dari kakak-kakak kelas, kini hadirin disuguhkan penampilan dari siswa-siswi kelas I yang juga tak mau kalah dengan kakak-kakaknya. Di bawah asuhan Ibu Handriyana Susila, S.Pd, siswa kelas I menampilkan persembahan berupa kegiatan menyanyi dan membaca puisi dengan tema “Ibu”.

Penampilan ini berlangsung dengan penuh kepolosan dan ketulusan, sehingga mampu menghadirkan suasana haru dan menyentuh hati para penonton. Melalui lantunan lagu dan bait-bait puisi sederhana, siswa kelas I menyampaikan ungkapan cinta, rasa hormat, dan terima kasih kepada sosok ibu sebagai figur yang penuh kasih sayang. Penampilan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua dapat ditanamkan sejak usia dini melalui kegiatan seni dan literasi.

Menyanyi anak-anak kelas 1
Pembacaan puisi

Indonesia memiliki beragam budaya yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, mencerminkan kekayaan dan keunikan setiap daerah. Salah satu bentuk kekayaan budaya tersebut adalah tari tradisional. Setiap tarian tradisional memiliki ciri khas tersendiri, baik dari segi gerak, iringan musik, busana, maupun makna yang terkandung di dalamnya. Tarian-tarian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai-nilai luhur, sejarah, adat istiadat, serta identitas suatu daerah. Oleh karena itu, siswa-siswi kelas II di bawah asuhan Ibu Hermin, S.Pd menampilkan tari tradisional sebagai wujud nyata upaya pelestarian budaya Nusantara. Melalui penampilan ini, siswa diajak untuk mengenal, mencintai, dan menghargai kekayaan budaya bangsa sejak usia dini. Selain melatih keterampilan seni dan kepercayaan diri, kegiatan ini juga menanamkan rasa bangga terhadap warisan budaya Indonesia agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Ibu Umamil Chamidah, S.Pd berpandangan bahwa tari tradisional merupakan warisan budaya yang perlu dilekatkan pada jiwa siswa-siswi sejak dini. Menurut beliau, pesatnya perkembangan teknologi serta derasnya arus informasi yang begitu cepat membawa risiko tersendiri bagi keberlangsungan budaya tradisional. Tanpa adanya penguatan dan penanaman nilai budaya, tradisi lokal dikhawatirkan akan perlahan tergeser oleh budaya luar dan modern yang sering kali bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur budaya tradisional yang sarat akan makna filosofis. Oleh karena itu, pengenalan dan pelestarian tari tradisional di lingkungan sekolah menjadi langkah penting untuk menjaga identitas budaya bangsa sekaligus membentuk karakter siswa agar tetap berakar pada nilai-nilai budaya Nusantara.

Sehingga beliau berusaha menampilkan tari tradisional khas indonesia agar tujuan tersebut dapat tercapai dan kelestarian tari tradisional dapat tetap terjaga

pada penampilan kegiatan kokulikuler dan literasi SDN Suruh 2025, di tutup dengan penampilan kelas V asuhan Ibu Arlina Yunita S.Pd dengan penampilan yang memukau yakni tari Ratoh Jaroe khas Aceh yang sempat populer karena perasaan Asian Game 2018

Tari Ratoh Jaroe merupakan salah satu tarian tradisional khas dari Provinsi Aceh yang mencerminkan kekayaan budaya serta nilai-nilai luhur masyarakat Aceh. Tarian ini biasanya dibawakan secara berkelompok oleh para penari perempuan dengan gerakan yang kompak, serempak, dan penuh energi. Kekompakan tersebut menjadi ciri khas utama Tari Ratoh Jaroe sekaligus simbol kebersamaan, persatuan, dan kerja sama yang kuat.

Gerakan dalam Tari Ratoh Jaroe dipadukan dengan iringan musik dan syair bernuansa Islami yang mengandung pesan moral, nasihat, serta ajakan untuk berbuat kebaikan. Setiap gerakan memiliki makna filosofis yang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai disiplin, keharmonisan, dan kebersamaan. Selain itu, tarian ini juga menuntut konsentrasi, ketepatan gerak, serta rasa tanggung jawab antarpenari agar tercipta keselarasan dalam setiap penampilannya.

Sebagai penutup, kegiatan kokurikuler dan literasi ini menjadi wadah yang bermakna bagi siswa untuk mengembangkan serta mengekspresikan berbagai potensi yang telah mereka asah selama satu semester terakhir. Melalui beragam penampilan dan aktivitas yang ditampilkan, siswa tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik dan nonakademik, tetapi juga menyalurkan perasaan, kreativitas, serta nilai-nilai karakter yang telah dipelajari.

Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi pengalaman berharga yang memotivasi siswa untuk terus tumbuh, berkarya, dan berani mengekspresikan diri secara positif di masa mendatang.

Sampai jumpa di kegiata pentas seni selanjutnya di semester 2.

Tags :
Share This :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *